Posted by: andokokeuangan | August 31, 2012

Cash is King, Benarkah ?

Dalam suasana ekonomi global yang tak menentu, apakah uang tunai pilihan paling baik?

Artikel ini berdasarkan wawancara dengan Sdri. Jeanne Francoise dan dimuat di Majalah FORTUNE Indonesia Volume 44 yang terbit bulan Agustus – September 2012

Saat ini krisis global sudah di ambang mata; Eropa dalam suasana yang menyedihkan, Amerika masih terlilit utang. China dan India juga memperlambat laju pertumbuhan ekonominya. Dalam kondisi seperti itu, ada jargon yang sudah sangat terkenal : Cash is King. Persoalannya, benarkah demikian?

Saya termasuk yang setuju dengan jargon tersebut. Cash alias uang tunai bukan hanya bermanfaat bagi individu, tetapi juga bagi korporasi. Bahkan bagi setiap perencana keuangan, management Cash flow itu nomor satu.

Bagi korporasi, jumlah uang tunai yang ada berbanding lurus dengan seberapa besar profit-nya, sedangkan penghasilan individu tidak bisa demikian karena cash flow tiap-tiap orang itu tidak ada batasannya.

Tidak ada ilmu pasti pengaturan jumlah uang tunai. Namun demikian, saya sarankan untuk “menggenggam” regular cash sejumlah tiga sampai enam kali pengeluaran per bulan. Misalnya, pengeluaran Anda Rp. 3 juta per bulan, maka harus ada uang tunai sejumlah Rp. 9 juta sampai Rp. 18 juta. Praktisnya jika dihitung per bulan, Anda harus pegang uang tunai sejumlah 10% sampai 20% dari penghasilan.

Ketika Anda sudah mempunyai uang tunai tersebut, belilah emas karena emas adalah model cash alternatif yang dapat dicairkan dengan mudah. Pada dasarnya, uang tunai baik dalam rupiah maupun dollar, digunakan untuk opportunity. Korporasi dapat menggunakan cash untuk investasi, sementara individu dapat memakainya untuk beli saham-saham yang sedang turun nilainya.

Sebelum menyisihkan uang tunai, bayarlah dulu pengeluaran tetap per bulan, misalnya cicilan Kredit Kepemilikan Rumah (KPR). Sisihkan 20% dari penghasilan Anda untuk investasi ( reksadana, saham, deposito, asuransi jiwa ) , antara 10% sampai 20% uang cash, 20% dana darurat, sisanya untuk operasional sehari-hari.

Nah, dari dana tunai yang teralokasi itu, buatlah komposisi lagi. Ini penting untuk meminimalisir risiko pengeluaran tidak terkendali karena uang di depan mata. Sisihkan 50% uang tunai untuk kebutuhan rumah tangga sehari-hari, 15% sampai 30% untuk cicilan yang sifatnya insidental, dan sisanya untuk entertainment, zakat dan sumbangan.

Selama tujuh tahun menangani cash flow klien, saya banyak menemukan kasus investasi bodong akibat korban yang tidak mengerti kegunaan uang cash. Waspadalah. Uang cash itu bukan semata-mata wealth consumption, namun juga tabungan pribadi. Uang cash juga memiliki sifat antisipatif, bagaikan payung sebelum hujan.

Maka, kalaupun krisis global benar akan terjadi, beruntunglah Anda yang punya uang tunai karena Anda punya modal untuk hidup, tanpa pekerjaan.

Nah, ternyata uang tunai itu tetap penting di zaman digital ini.

Cobalah mulai sisihkan pendapatan Anda untuk uang cash dan aturlah cash flow tersebut untuk akumulasi kekayaan, maupun untuk dana yang dapat digunakan sewaktu-waktu.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: