Posted by: andokokeuangan | May 11, 2012

Belajar Investasi Properti

Dalam setiap lini bisnis selalu ada mitos dan atau persepsi keliru yang menempel. Padahal mitos tersebut pada kenyatannya tidaklah selalu benar, begitu pula di bisnis properti.

Investasi properti memiliki prestige tersendiri, benarkah?

Ada banyak pertanyaan di benak investor baru yang ingin memulai belajar investasi di properti.

Minimnya informasi yang didapat bisa sangat menyulitkan anda memisahkan fakta dan mitos.

Daripada harus menyusun seluruh fakta yang ada, lebih baik kita belajar bareng tentang sebuah industri properti, berikut ini beberapa hal yang menjadi isu sentral pembelajaran kita dalam berinvestasi properti dan akan saya bahas satu persatu.

1. Berinvestasi di properti hanya untuk orang kaya

Memang benar, uang bisa menggerakan dunia, dan pastinya sangat membantu orang meraih impian.

Tapi instrumen investasi properti tidak hanya untuk orang kaya. Banyak pengusaha properti terkenal memulai bisnisnya kecil-kecilan.

Namun, secara perlahan mereka menanjak ke posisi puncak dengan kerja keras.

2. Berinvestasi di properti berisiko tinggi

Beberapa orang beranggapan begitu karena biasanya membutuhkan modal cukup tinggi, sehingga jika gagal di tengah jalan, kerugiannya pun cukup tinggi.

Padahal sebenarnya, risiko berinvestasi di properti termasuk salah satu yang paling rendah.

Jika dibandingkan pasar modal atau lembaga keuangan lainnya. Memang ada risikonya, tapi semua bisa diperhitungkan.

3. Jual-beli rumah merupakan cara investasi terbaik

House flipping yaitu membeli rumah dengan niat untuk dijual kembali bisa jadi cara yang baik untuk berinvestasi di properti, tapi jelas bukan yang terbaik karena masih ada pilihan-pilihan lain.

Dalam situasi ekonomi seperti ini, harga rumah sudah cukup tinggi, dan anda harus menunggu cukup lama untuk bisa mendapatkan keuntungan tinggi lewat menjual kembali rumah tersebut.

Menyewakan properti anda bisa jadi jalan yang lebih baik ketimbang menjualnya begitu saja.

4. Anda perlu banyak pengalaman dalam investasi properti

Mitos ini lebih masuk akal dibandingkan mitos lainnya.

Akan tetapi, jika dipikir baik-baik, jika semua investor perlu banyak pengalaman sebelum memulai maka tidak akan ada yang namanya instrumen investasi properti.

Pengalaman memang sangat membantu, dan hanya bisa diraih sejalan dengan waktu dan jam terbang.

Yang paling anda perlukan adalah keinginan untuk belajar.

5. Banyak yang gagal berinvestasi di properti

Layaknya sebuah instrumen investasi, properti juga punya risiko, tapi janganlah membuat anda takut sebelum memulai.

Pikiran seperti ini biasa terjadi akibat kurangnya informasi setelah mengambil keputusan.

Sebaiknya, jika anda merasa tidak mampu berinvestasi di sektor ini, lebih baik tidak usah.

Tapi jangan sampai anda batal berinvestasi hanya karena masukan dari orang lain, terutama nasihat dari mereka yang belum pernah masuk ke sektor ini.

6. Berinvestasi di properti hanya sukses jika anda ‘kenal’ orang yang tepat

Dalam bisnis dan industri apapun, punya banyak relasi akan sangat membantu.

Apakah wajib untuk punya banyak relasi untuk memulai? Tentu tidak! Anda bisa membangun relasi sejalan dengan waktu.

Mulailah berkenalan dan mengobrol dengan investor lain, pengacara, broker, dan siapa saja yang bisa membantu anda di masa mendatang.

7. Beli properti di bawah harga pasar pasti menguntungkan

Teori ini tidak sepenuhnya benar untuk industri properti. Meski membeli properti di bawah harga pasar menguntungkan di atas kertas, anda tidak akan mendapatkan laba sebelum berhasil menjual atau menyewakannya.

Terkadang sebuah properti dijual murah karena beberapa faktor yang tentunya harus menjadi pertimbangan, seperti lokasi atau bangunan yang buruk. Anda harus lebih berhati-hati.

8. Tidak ada lagi properti bagus yang tersedia

Semua orang butuh tempat tinggal. Sebuah keluarga akan berkembang setiap harinya sehingga butuh properti baru.

Anda akan selalu menemukan properti yang layak untuk diinvestasikan, hanya saja anda harus lebih sering dan giat mencarinya.

9. Kunci sukses berinvestasi di properti, pasang harga tak terlalu tinggi

Dalam kebanyakan kasus investasi properti, angka-angka sangatlah menentukan.

Bahkan, anda bisa menawarkan harga jauh di atas rata-rata pasaran jika properti anda sudah dipoles menjadi sangat menarik.

10. Anda perlu informasi dari ‘orang dalam’

Sebenarnya anda tidak perlu informasi yang sangat penting dari ‘orang dalam’ yang lebih berpengalaman.

Dengan jam terbang yang tinggi dan banyak berinteraksi bersama para profesional, lambat laun anda akan menjadi ‘orang dalam’ tersebut

11. Investasi properti harus banyak membayar pajak

Sebenarnya tidak ada satupun hal yang dapat luput dari masalah pajak, apalagi investasi. Memang, properti termasuk salah satu bentuk investasi yang banyak berurusan dengan pajak.

Pajak-pajak apa saja yang terkait dengan investasi properti?

1. PBB (Pajak Bumi & Bangunan).

PBB merupakan pajak kebendaan yang melekat pada objeknya (berupa tanah dan atau bangunan yang didasarkan pada azas kenikmatan & manfaat), PBB dibayar setiap tahun dan dikenakan kepada semua wajib pajak (pemilik properti).

Dasar pengenaan PBB adalah Nilai Jual Objek Pajak

Perhitungan PBB berdasarkan Undang-undang No 12 Tahun 1994 adalah sbb :
•    PBB = 0,5% X 20% X (NJOP – NJOPTKP). Berlaku bagi objek PBB lainnya yang NJOP = 1 Milyar rupiah.

Perhitungan PBB berdasarkan Undang-undang No 28 Tahun 2009 Pasal 81 adalah sbb :
•    PBB =  max 0,3% X (NJOP – NJOPTKP).

2. PPN (Pajak Pertambahan Nilai).

PPN yang dikenakan untuk properti sebesar 10% dari nilai transaksi. Minimal nilai transaksi yang dipungut PPN adalah diatas 36 juta. PPN hanya dikenakan sekali pada sebuah properti.

Jika membeli properti dari developer, untuk pembayaran dan pelaporan PPN biasanya dilakukan melalui developer.

3. PPn BM (Pajak Pertambahan Nilai Barang Mewah)

PPnBM hanya dikenakan untuk properti yang dibeli dari developer dan memenuhi kriteria sebagai barang mewah.  PPnBM tidak berlaku untuk transaksi antar perorangan.

4. BPHTB (Bea Perolehan Hak atas Tanah & Bangunan).

Bea ini dikenakan terhadap semua transaksi properti, baik properti baru maupun lama yang dibeli dari developer (pengembang) atau perorangan.

Bea ini dikenakan bagi pembeli atau pihak yang menerima pemindahan hak atau pemberian hak baru.

Perhitungan BPHTB sbb :

•    BPHTB  = 5% X (Nilai Perolehan Objek Pajak – Nilai Perolehan Objek Pajak Tidak Kena Pajak) 
atau

•    BPHTB  = 5% X (Nilai Jual Objek Pajak – Nilai Perolehan Objek Pajak Tidak Kena Pajak) 

5. PPh (Pajak Penghasilan).

Pajak Penghasilan (PPh) biasanya dikenal sebagai pajak yang dikenakan kepada penjual baik perorangan atau badan.

Kecuali transaksi Rp. 60 juta atau dibawahnya, penjual tidak dikenakan PPh.

Tarif PPh atas transaksi penjualan :

•    Tarif pajak yang dikenakan terhadap penghasilan dari pengalihan hak atas tanah dan atau bangunan adalah sebesar 5% dari jumlah bruto nilai pengalihan hak atas tanah.

Demikian pembelajaran kita kali ini.
Jika ada hal yang baru akan saya up date disini.

Salam


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: