Posted by: andokokeuangan | February 23, 2012

Investor Protection Fund di Indonesia

Iklim investasi nasional semakin cerah saja menyusul peringkat investment grade yang diterima pasar modal kita dari Fitch Rating dan Moody’s.

Topik tulisan saya terinspirasi dari bahasan investor daily tentang Investor Protection Fund di Indonesia.

Sampai saat ini, PT. Bursa Efek Indonesia, Tbk melanjutkan program pendirian Lembaga Penjamin Dana Nasabah atau Investor Protection Fund (IPF) yang targetnya akan berdiri pada 2012 ini.

Jika LPS merupakan Lembaga Penjamin Simpanan yang didirikan untuk melindungi nasabah yang menyimpan dana di bank dan diorganisir oleh Bank Indonesia maka IPF atau Investor Protection Fund adalah Lembaga Penjamin Dana Nasabah yang bertujuan untuk melindungi dana investor yang melakukan transaksi di pasar modal, terorganisir oleh Bursa Efek Indonesia.

Investasi dasar dilindungi oleh polis asuransi jika ada ketidakmampuan membayar kembali pokok investasinya. Investasi dasar hanya dapat dibayarkan kembali setelah masa jaminan berakhir.

Jika investor menjual sebelum periode ini, maka tunduk pada nilai saat ini dari dana dan kerugian yang mungkin timbul.

Proses pembentukan IPF diserahkan kepada pihak konsultan independen yang berasal dari Securities Investor Protection Company (SIPC) Amerika “Protecting yourself against fraud”

Asian Development Bank melalui Bursa Efek Indonesia menunjuk konsultan asing untuk melakukan koordinasi mengenai persiapan dan pendirian IPF.

Selanjutnya akan disusun sistem pengajuan klaim, formulir pengisian data serta mekanisme pengajuan anggota dan prosedur kerja.

IPF merupakan amanat dari Undang Undang No. 8 tahun 1995 tentang Pasar Modal.

Konsep pendirian IPF berawal dari tahun 2007 dan merupakan jawaban atas berbagai pelanggaran yang ada di pasar modal, tugasnya semata mata adalah melindungi nasabah atau investor yang bertransaksi di Pasar Modal agar menjadi lebih nyaman menjalankan transaksi.

Dasar pembentukan IPF adalah untuk melindungi investor ritel dan mengembalikan dana nasabah ritel yang hilang oleh manajemen perusahaan efek.

Berbagai studi banding yang dilakukan Indonesia sebelum implementasi IPF di Indonesia

Anggaran sebanyak Rp. 90 milyar untuk persiapan pembentukan IPF berasal dari ketiga Self Regulatory Organization yakni : Bursa Efek Indonesia, Kustodian Sentra Efek Indonesia dan Kliring Penjaminan Efek Indonesia.

Dana tersebut akan dialokasikan sebagai dana awal dan dana operasional yang selanjutnya nanti akan dibebankan kepada investor anggota bursa.

Menurut saya, Indonesia punya harapan lebih jelas kedepan sehingga dapat menjamin cerahnya iklim investasi nasional karena ada rasa aman bagi investor terutama investor ritel dari risiko dana hilang atas kesalahan manajemen perusahaan efek.

Apa pendapat Anda?

Salam.

At twitter @AndokoCFP

Sumber :

http://www.investordaily.com
http://www.investopedia.com
http://www.sipc.org


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: